Translate

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Januari 2018

Alternatif Aplikasi Pemutar Musik Android Selain POWERAMP yang Sulit Diinstal Secara Full Crack


POWERAMP merupakan aplikasi android terbaik yang berbayar dengan kualitas suara yang menggelegar dari Bass dan Trebble nya, namun kebanyakan dari kita ingin mencari yang sudah full crack dirasa cukup sulit mendapatkannya atau bila adapun selalu crash (tidak bertahan lama) Jika masalah anda serupa dengan saya, berikut urutan Instalasi aplikasi ALTERNATIF + PENGATURANNYA yang InsyaAllah bisa serupa suaranya dengan Poweramp ;

1. Instal Jet Audio + Pengaturan
2. Instal Ekualiser + Pengaturan
3. Atur Enhancernya khusus pengguna Xiaomi

Semoga bermanfaat
W^ss^lM

Selasa, 14 November 2017

Sejarah Dangdut, dari Dakwah Hingga Goyang

Sejarah Dangdut, dari Dakwah Hingga Goyang

penampilan zaskia gotik (kiri) tampil bersama elvy sukaesih dan ayu ting ting menyanyikan lagu gula-gula pada malam penganugerahan mnctv dangdut awards 2014 di jakarta, rabu (10/12) malam. mnctv dangdut awards merupakan apresiasi yang diberikan kepada hasil karya musik dangdut dan pelaku industrinya dengan 9 kategori penghargaan. antara foto/julius wiyanto/meli/koz/spt/14.
Reporter: Iswara N Raditya
31 Mei, 2017
Sejarah dangdut turut mewarnai perjalanan panjang belantika musik Indonesia. Dari era Melayu yang mendayu-dayu, dijadikan media dakwah, hingga wabah dangdut disko dan dangdut koplo.
tirto.id - Pernah dengar istilah Nasida Ria dengan “gaya” baru? Jawabannya bisa mengetik “Qasima” di kolom pencarian YouTube, maka muncul deretan rekaman video yang menampilkan gadis-gadis muda berhijab layaknya kelompok Nasida Ria yang begitu populer sejak era 1970-an.

Qasima memang bukan Nasida Ria yang begitu melegenda dengan lagu-lagu religi Islam. Kelompok musik ini menyuguhkan nada-nada asmara dengan alunan dangdut, bahkan sesekali dimainkan dengan versi “koplo”. Suguhan yang cukup kontras dengan busana muslimah yang dikenakan para personel Qasima.

Grup ini memang mengadopsi gaya panggung Nasida Ria. Hanya saja, mereka tampaknya ingin tampil beda dengan membawakan tembang-tembang yang bisa mendorong pinggul untuk bergoyang. Para kaum hawa dengan menyandang gitar, menepuk ketipung, meniup seruling, terlebih lagi menggebuk drum, semuanya berjilbab menjadi tontonan alternatif untuk grup dangdut yang umumnya didominasi pria.

Grup asal Magelang ini juga menyuguhkan genre musik qasidah, pop, bahkan rock, tapi judul-judul lagu yang mereka bawakan didominasi oleh tema percintaan, seperti Kelangan (Kehilangan), Cinta dan Dilema, Karena Cinta Terlarang, Tembang Tresno, dan lainnya. Apa yang dilakukan Qasima dengan menyadur gaya Nasida Ria walaupun dengan warna yang berbeda bukan hal asing, sosok penyanyi dangdut A. Rafiq dengan gaya Elvis Presley era 1980-an bisa jadi contohnya.

(Baca juga: Elvis Presley" yang Mengguncang Panggung Dangdut Indonesia)

Apa yang dipertontonkan oleh Qasima itu justru menjadi keistimewaan dangdut yang tidak dimiliki oleh aliran musik lain, yakni fleksibel lagi dinamis. Jenis musik yang kerap dituding tidak berkelas ini memang juara jika bicara soal keluwesan. Dangdut bisa dipadukan dengan apapun, dari keroncong sampai musik cadas. Itulah yang boleh jadi menjadi alasan mengapa dangdut selalu ada di setiap titik masa dalam sejarah musik Indonesia, karena bisa menyentuh berbagai kemasan termasuk untuk kepentingan berdakwah.

Berdakwah Lewat Dangdut

Ada masa di mana dangdut diidentikkan sebagai jenis musik santun, sempat pula dianggap sebagai anti tesis untuk melawan musik rock yang seringkali dituding liar lagi brutal. Bahkan, dangdut pernah menjadi media yang cukup efektif untuk berdakwah, menebarkan nilai-nilai keagamaan, khususnya ajaran Islam.

Pada era 1960-an, tersebutlah biduan bernama Rofiqoh. Ia lebih dikenal sebagai Rofiqoh Dharto Wahab dengan menyertakan nama suaminya. Rofiqoh bolehlah disebut sebagai pelopor musik dangdut religi di Indonesia. Ia adalah penyanyi qasidah dan gambus yang juga seorang qoriah berbakat.

(Baca juga: Lagu Islami, dari Qasidah ke Religi)

Bahkan, seperti disebut oleh Jajat Burhanuddin (2002) dalam buku Ulama Perempuan Indonesia, Rofiqoh sah-sah saja dikategorikan sebagai mubalig jika mengikuti alur gradasi definisi tentang pengertian ulama yang kini semakin luas dan cenderung bisa disematkan kepada orang-orang yang menyiarkan ajaran agama, dalam konteks apapun.

Di periode selanjutnya, muncullah nama Rhoma Irama dengan Soneta Grupnya, grup dangdut yang dibentuk pada 13 Oktober 1973. Meskipun juga sering menciptakan lagu-lagu bertema asmara, tapi pria bernama lahir Raden Irama alias Oma ini dikenal pula sebagai musisi dangdut sekaligus seorang pendakwah.

Sejak debutnya pada awal dekade 1970-an itu, Rhoma sudah menggaungkan jargon “Voice of Moslem”. Berdakwah lewat dangdut ternyata sangat digemari. Buktinya, pada 1984, penggemar Rhoma dan Soneta tidak kurang dari 15 juta orang atau 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia saat itu (Tempo, 30 Juni 1984). Dari situ pula ia memperoleh julukan Raja Dangdut.

(Baca juga: Rhoma Irama, Sang Raja yang Tak Tergantikan‎)

Di kurun yang sama dengan masa kemunculan Rhoma Irama, lahir pula Nasida Ria, dibentuk pada 1975 di Semarang. Grup yang beranggotakan 9 muslimah ini mengusung musik qasidah dengan gaya Timur Tengah dan memakai alat-alat musik modern (Ziauddin Sardar & Robin Yassin Kassab, Muslim Archipelago, 2013).

Rhoma Irama dan Soneta maupun Nasida Ria melahirkan lagu-lagu Islami yang masih terjaga kesakralannya hingga kini. Mereka pun masih eksis dengan menerapkan regenerasi kendati sulit untuk mencapai ketenaran seperti dulu.


Sejarah Dangdut, dari Dakwah Hingga Goyang

Keabadian Musik Picisan 

Akar lahirnya dangdut di Indonesia disebut-sebut mulai muncul pada dekade 1940-an, bermula dari musik Melayu yang cukup populer di Indonesia bagian barat. Kala itu, belum lahir istilah dangdut, orang-orang menyebutnya dengan nama musik Melayu-Deli (Balai Bahasa Yogyakarta, Dari Tradisi ke Modernisasi, 2009).

Musik Melayu-Deli itu sebetulnya mirip dengan keroncong. William H. Frederick (1982) dalam Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesian Popular Culture, bahkan menyebut musik keroncong di era itu dikatakan sebagai orkes melayu. 

Orkes melayu atau yang biasa disingkat O.M. inilah yang nantinya menjadi istilah untuk menamakan grup atau kelompok musik ber-genre dangdut, bahkan sampai saat ini. Para penggemar dangdut tentunya akrab dengan grup-grup macam O.M. Monata, O.M. Sera, O.M. Sagita, O.M. Palapa, O.M. Latansa, dan sejenisnya.

(Baca juga: Sang Penyelamat Krisis The Rollies)

Stigma kacangan musik dangdut ada benarnya juga, seperti yang pernah disandang keroncong. Di era kolonial, keroncong –yang notabene pendahulu dangdut– dipandang oleh masyarakat kelas atas, yakni bangsa Eropa/Belanda, secara hina sebagai produk kehidupan kelas kampung (Pesan-pesan Budaya Lagu-lagu Pop Dangdut dan Pengaruhnya, 1995). Kendati begitu, dangdut tak pernah mati. Bahkan sejak dalam wujud embrio, dangdut secara elastis mampu beradaptasi dengan perkembangan musik global dan akhirnya terlahir sebagai jenis musik sendiri.

Di masa awalnya, dangdut –yang berangkat dari musik Melayu dan keroncong– berbaur pula dengan jenis musik lainnya, semisal musik dari India, Timur-Tengah, bahkan Latin (Max Richter, Musical Worlds in Yogyakarta, 2012). Dari rezim ke rezim, dangdut berkembang mengiringi zaman. Saat industri musik Indonesia dijejali lagu-lagu pop cengeng ala Rinto Harahap pada dasawarsa 1980-an, dangdut juga ikut menceburkan diri kendati dengan format yang berbeda.

(Baca juga: Ini Rinto dan Ia Memang Bukan Rambo)

Begitu pula di era-era berikutnya di mana dangdut masih terus disuka walaupun hadir dengan wujud yang tidak selalu sama, termasuk dengan kemunculan Inul Daratista sejak milenum baru abad ke-21. Inul memang membikin heboh sekaligus menuai kecam dengan goyang ngebor-nya di awal era 2000-an itu yang lantas disusul dengan membanjirnya ragam jenis goyangan lainnya oleh para biduan wanita baru. 

Meskipun dicerca, bahkan sempat dicekal oleh sang raja dangdut Rhoma Irama, Inul tetap bertahan. Biduan asal Pasuruan, Jawa Timur ini bersikukuh ingin mengembalikan dangdut kepada akarnya, yakni sebagai musik rakyat (Rudi Gunawan, Mengebor Kemunafikan: Inul, Seks, dan Kekuasaan, 2003). 

Masyarakat Indonesia tidak sedikit yang menyukai dangdut gaya baru yang ditawarkan Inul. Dangdut terus melaju dan menggulung jenis musik apapun yang menghadangnya. Maka tidak heran jika kini dikenal banyak varian dangdut, sebutlah dangdut Jawa (campursari), dangdut house, dangdut disko, dangdut koplo, dangdut metal, rock dangdut, dan seterusnya, hingga yang terbaru: Nasida Ria versi kekinian alias Qasima.

Dangdut memang tetap saja dianggap musik picisan. Namun, keandalannya sudah terbukti dan sekali lagi, ia tak pernah mati melintasi berbagai zaman. 

Baca juga artikel terkait DANGDUT atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya 

Rabu, 08 Maret 2017

Fakta Menarik Bang Haji Rhoma Irama


Bagi para penggemar lagu Dangdut, siapa yang tidak tau Rhoma Irama. Dialah Radja Dangdut Dunia, dari masa tahun 80an sampai sekarang masih eksis sebagai Penyanyi dan Pencipta lagu Dangdut. Namun tahukan anda bahwa ada 8 hal fakta yang perlu anda tahu tentang Haji Rhoma Irama. Berikut kami sajikan;

1.    Penyanyi Dangdut yang paling banyak menciptakan lagu
Paling tidak ada 348 Lagu yang dapat ditelusuri oleh Penulis, yang terdiri dari 264 singgel dan 84 duet. Penelusuran Penulis Rhomalah satu-satunya Penyanyi dengan lagu ciptaan terbanyak. Dan perlu di ketahui hampir seluruh lagu-lagu Rhoma booming dan menjadi hith baik pada masanya maupun sekarang.

2.    Hampir semua lagu-lagu Rhoma Irama Memiliki tingkat kesulitan tinggi
Ini terbukti apa yang terjadi dalam D academy 2, Syaiful Djamil sangat kesulitan menyanyikan lagu Beliau, dan masih di D academi, bahwa kontestan-kontestan banyak yang kemudian tidak sempurna menyanyikan lagu Beliau.

3.    Penyanyi yang tidak perlu bantuan rombongan artis lain untuk menjaga ketenarannya.
Jika disandingkan dengan Koes Ploes (penyanyi POP) perlu rombongan beberapa penyanyi plus Erwin Gutawa untuk mengemas ulang lagunya agar tetap Eksis. Artis POP lain, katakanlah Iwan Fals perlu menyanyikan lagu-lagu ciptaan orang lain untuk membuat album.
Faktanya, Rhoma Irama tidak pernah meminta bantuan istimewa seperti mereka berdua, tetapi lagu-lagu dan namanya tetap eksis sampai sekarang. Bahkan, banyak penyanyi yang terus menyanyikan lagu-lagu ciptaannya yang kadang dengan aransemen ulang.

4.    Satu-satunya Artis/Penyanyi yang tidak mempan terhadap isu-isu miring.
Popularitas A.A. Gym langsung terjun bebas begitu beristri dua. Perusahaan milik Sapto Wardoyo-pun limbung karena masalah poligami. Demikian juga dengan beberapa artis lain yang hilang dari peredaran saat diterpa berbagai masalah seperti perselingkuhan, perceraian, perkawinan, dan lain-lain.
Faktanya, Beda dengan Rhoma Irama, mau kawin berapa kali, mau cerai berapa kali, mau dituduh berzina, tetap saja populer dan laku dijual.

5.    Penyanyi Indonesia yang mempunyai penggemar warga negara asing dan musiknya dimainkan oleh orang asing.
 Dewa, Agnes Monika, Inul Daratista saat konser diluar negeri ternyata kebanyakan hanya ditonton oleh WNI yang bermukim di negara tersebut. Dalam istilah lain, konser mereka di luar negeri ternyata karena ditanggap oleh orang-orang Indonesia yang berada di negara itu.
Lain halnya dengan Rhoma Irama. Konser Rhoma Irama di luar negeri ternyata memang diminta oleh para penggemarnya yang terdiri dari orang asing. Mereka bahkan memiliki klub-klub dangdut yang menyanyikan lagu-lagu Rhoma Irama dengan fasih. Termasuk jogednya yang sangat khas.
Ini petikan berita tentang konsernya di Pittsburgh ” This song I wrote in 1975. The song is called ‘All Night Long’ or ‘Begadang’!”, demikian Bang Haji membuka konser. Belum sampai refrain lagu ini dinyanyikan, tiba-tiba sejumlah penonton yang kebanyakan adalah mahasiswa jurusan Musik di Pittsburgh University langsung maju ke depan panggung dan berjoget. Tidak lama berselang, maju pula seluruh penonton dari berbagai warna kulit untuk ikut berjoget”.  Dan yang cukup membanggakan, yang mempromosikan dangdut di sana bukanlah orang sembarangan, Dia adalah seorang profesor bernama Andrew Weintraub.

6.    Satu-satunya Penyanyi yang sukses membuat dan menjadi tokoh utama Film.
Tidak ada penyanyi lain yang bisa main film sesukses Bang Haji. Hampir semua filmnya menjadi block buster. Momen paling menyenangkan di hari lebaran era 70-80 di Indonesia  adalah menunggu film Rhoma Irama diputer di bioskop. Bahkan sampai sekarang filmnya masih sering di putar di televis-televisi Nasional.

7.    Ikut Parpol dan Nyalon Presiden namun tak turun Popularitasnya.
Seperti yang kita ketahui bersama, bang Haji adalah salah satu calon Presiden yang di usung oleh salah satu Parpol, namun kemudian gagal karena adanya politisasi. Namun demikian ternyata pendukung Rhoma sangat banyak dan yang paling penting konsep untuk Indonesia sangat bagus.
Fakta-fakta menunjukan jika artis kemudian berkecimpung ke Parppol akan turun Popularitasnya. Namun berbeda dengan Bang Haji, walaupun Pernah di Parpol dan Pernah mencalonkan diri sebagai Presiden, Popularitasnya tidak turun sama sekali.

8.    Penyanyi yang bisa membuat lagu dengan lirik terdiri dari segala macam tema tetapi tetap bisa menjadi hits dan best seller.
 Pernah dengar Dewa, Koes Ploes, Iwan Fals, Agnes Monika, Kris Dayanti, dan lain-lain bikin lagu yang bernafas agama, politik, sosial dan olahraga kemudian laku keras di pasaran? Sepertinya sangat jarang.
Faktanya hanya Rhoma Irama yang mampu melakukannya. Lagu seperti Ghibah, Hari Kiamat, Lari Pagi, Pemilu, Indonesia, dan masih banyak lagi lagu-lagu lainnya semuanya menjadi hits di eranya masing-masing dan masih tetap menjadi lagu-lagu populer sampai sekarang.
Hasil gambar untuk rhoma irama
Itulah 8 Fakta tentang Haji Rhoma Irama, ternyata di Indonesia ada Seniman yang sangat berkompeten, yang sekaligus bintang film, yang sekaligus ahli Dakwah melalui syair-syair lagunya